Senin, 21 November 2011

NILAI ESTETIK KERINCING DALAM TARI TOPENG IRENG

NILAI ESTETIK KERINCING DALAM TARI TOPENG IRENG
Oleh
Kiswanto*


Pendahuluan

            Tari ‘Topeng Ireng’ merupakan salah satu jenis tarian rakyat yang berasal dan berkembang  di kabupaten Magelang Jawa Tengah. Dalam perkembangannya sampai saat ini, kesenian ini telah tersebar di daerah lain di sekitar Magelang seperti kabupaten Temanggung dan Boyolali. Kostum dan properti yang digunakan penari cukup unik, salah satunya terdapat hiasan atau mahkota pada kepala penari yang terbuat dari bulu-bulu burung yang mirip dengan mahkota kepala yang dipakai suku Hindian di Amerika. 
           
            Gambar 1. Penari dengan kostum dan properti.[1]
                Masyarakat sekitar sering juga menyebut kesenian ini dengan istilah Dayakan. Dayakan yang dimaksud bukanlah menunjuk pada suku Dayak yang berada di Kalimantan, tetapi lebih pada anggapan masyarakat memahami tata busana dan artistik penari yang mengindikasi pada manusia hutan – rimba.
“Dayakan bisa diperkirakan merupakan pengembangan dari kesenian kobra siswa. Dilihat dari kemiripan ubo rambe gamelan utama yang digunakan, seperti bedug/drum, dan bende nampak sekali kesamaannya. Ditinjau dari lagu pengiring yang dinyanyikanpun ada kemiripannya dimana banyak diperdengarkan lagu-lagu bertemakan dakwah, di samping lagu-lagu nasional, mocopatan, dan campur sari modern.”[2]
“Hanya saja memang terdapat sedikit modifikasi dalam hal formasi dan tata cara berbaris yang lebih dinamis dan tanpa pakem yang kaku seperti dalam kobra. Penambahan pengiring seperti organ, siter atau kecapi semakin menambah dinamisasi seni dayakan. Namun satu yang pasti dapat dilihat secara kasat mata, ya di perbedaan kostum itu tadi.”[3]

Salah satu properti yang cukup berperan dalam struktur penyajian tarian ini adalah kerincing yang dipakai penari. Berdasarkan suara yang dihasilkan sangat berpengaruh terhadap psikologi pemain,  di mana pemain merasakan kepuasan, berpengaruh keseriusan ekspresi gerak – emosional, serta suasana meriah atau rame dalam pertunjukan.
Berdasarkan bentuk fisik – artistik – pada kerincing, tanpa ada aturan yang baku, dalam faktanya telah terdapat standarisasi yang dianut para pelaku kesenian yaitu kerincing yang dipakai memenuhi dari pergelangan kaki hingga lutut penari. Kerincing ini dirangkai dari 70 sampai ratusan biji kerincing dengan menggunakan alas spon.
Mengamati properti kerincing yang demikian hingga dapat dinikmati dan dirasakan para penari, maka dalam benda tersebut merupakan unsur yang mengandung keindahan. “…keindahan adalah suatu kumpulan hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat”[4].
 Karena definisi keindahan dari para filsuf dan anggapan banyak orang yang berbeda-beda, hal ini merupakan problem semantik modern yang tidak ada satu jawaban yang benar. Untuk menelaah keindahan tersebut lebih tepatnya adalah menggunakan salah satu cabang filsafat yang memperhatikan atau berhubungan dengan gejala yang indah pada alam dan seni, yaitu estetika. Di dalamnya menyangkut bahasan ilmiah berkaitan dengan karya seni, sehingga merupakan lingkup bahasan ilmiah. Dalam estetik modern, orang lebih banyak berbicara tentang seni dan pengalaman estetik, karena ini bukan pengertian abstrak melainkan gejala yang konkrit dan dapat ditelaah dengan pengamatan empiris serta penguraian yang sistematis.[5] Dengan demikian, dalam pembahasan ini penulis akan menelaah nilai-nilai[6] estetis kerincing dalam tari Topeng Ireng.


Deskripsi Obyek

Kerincing merupakan suatu properti yang umumnya dipakai pada pergelangan kaki penari dalam tari-tarian. Properti ini berbentuk bulat bola dengan memiliki rongga di dalamnya yang berisi biji logam kecil berukuran ± 0.5 inchi, pada bagian sisi bawahnya terdapat lubang kecil memanjang yang berfungsi sebagai sirkulasi udara untuk menghasilkan bunyi yang lebih nyaring. Ukuran diameter kerincing yang biasa dikenakan dalam tarian rakyat biasanya sekitar 2 - 3 cm. Pada sisi atas kerincing terdapat lingkaran kecil yang digunakan untuk memasang kerincing pada tali. Dalam pemakaiannya pada tarian rakyat, biasanya jumlahnya lebih dari satu kerincing yang di susun dengan tali tersebut. Selain itu, biasanya kerincing disusun rapi pada kain atau spon yang berfungsi untuk menghindari rasa sakit pada kulit akibat lecet dari benturan logam kerincing  (lihat gambar 1).
Gambar 2. Bentuk kerincing dan ukurannya yang berbeda-beda.
Kerincing merupakan properti yang menghasilkan bunyi-bunyian, jika diklasifikasikan berdasarkan bagaimana properti ini menghasilkan bunyi, kerincing termasuk dalam kategori idiophone dan ditinjau dari bahan pembuatannya, kerincing terbuat dari bahan baku logam yang berupa kuningan. Bunyi kerincing ini dihasilkan karena adanya benturan dengan benda lain. Ketika benturan ini terjadi, biji logam di dalam kerincing juga akan mengalami benturan serta pantulan di dalam rongga, sehingga dalam proses ini menghasilkan getaran-getaran yang menimbulkan bunyi.  Karena kekuatan tekanan benturan, pantulan biji logam, serta frekuensi semua kerincing yang berbeda-beda, maka waktu getaran yang dihasilkanpun tidak beraturan dalam menghasilkan bunyi; jelas bersama-sama saat terjadi tekanan atau benturan, dan bunyi ekor