Senin, 21 November 2011

NILAI ESTETIK KERINCING DALAM TARI TOPENG IRENG

NILAI ESTETIK KERINCING DALAM TARI TOPENG IRENG
Oleh
Kiswanto*


Pendahuluan

            Tari ‘Topeng Ireng’ merupakan salah satu jenis tarian rakyat yang berasal dan berkembang  di kabupaten Magelang Jawa Tengah. Dalam perkembangannya sampai saat ini, kesenian ini telah tersebar di daerah lain di sekitar Magelang seperti kabupaten Temanggung dan Boyolali. Kostum dan properti yang digunakan penari cukup unik, salah satunya terdapat hiasan atau mahkota pada kepala penari yang terbuat dari bulu-bulu burung yang mirip dengan mahkota kepala yang dipakai suku Hindian di Amerika. 
           
            Gambar 1. Penari dengan kostum dan properti.[1]
                Masyarakat sekitar sering juga menyebut kesenian ini dengan istilah Dayakan. Dayakan yang dimaksud bukanlah menunjuk pada suku Dayak yang berada di Kalimantan, tetapi lebih pada anggapan masyarakat memahami tata busana dan artistik penari yang mengindikasi pada manusia hutan – rimba.
“Dayakan bisa diperkirakan merupakan pengembangan dari kesenian kobra siswa. Dilihat dari kemiripan ubo rambe gamelan utama yang digunakan, seperti bedug/drum, dan bende nampak sekali kesamaannya. Ditinjau dari lagu pengiring yang dinyanyikanpun ada kemiripannya dimana banyak diperdengarkan lagu-lagu bertemakan dakwah, di samping lagu-lagu nasional, mocopatan, dan campur sari modern.”[2]
“Hanya saja memang terdapat sedikit modifikasi dalam hal formasi dan tata cara berbaris yang lebih dinamis dan tanpa pakem yang kaku seperti dalam kobra. Penambahan pengiring seperti organ, siter atau kecapi semakin menambah dinamisasi seni dayakan. Namun satu yang pasti dapat dilihat secara kasat mata, ya di perbedaan kostum itu tadi.”[3]

Salah satu properti yang cukup berperan dalam struktur penyajian tarian ini adalah kerincing yang dipakai penari. Berdasarkan suara yang dihasilkan sangat berpengaruh terhadap psikologi pemain,  di mana pemain merasakan kepuasan, berpengaruh keseriusan ekspresi gerak – emosional, serta suasana meriah atau rame dalam pertunjukan.
Berdasarkan bentuk fisik – artistik – pada kerincing, tanpa ada aturan yang baku, dalam faktanya telah terdapat standarisasi yang dianut para pelaku kesenian yaitu kerincing yang dipakai memenuhi dari pergelangan kaki hingga lutut penari. Kerincing ini dirangkai dari 70 sampai ratusan biji kerincing dengan menggunakan alas spon.
Mengamati properti kerincing yang demikian hingga dapat dinikmati dan dirasakan para penari, maka dalam benda tersebut merupakan unsur yang mengandung keindahan. “…keindahan adalah suatu kumpulan hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat”[4].
 Karena definisi keindahan dari para filsuf dan anggapan banyak orang yang berbeda-beda, hal ini merupakan problem semantik modern yang tidak ada satu jawaban yang benar. Untuk menelaah keindahan tersebut lebih tepatnya adalah menggunakan salah satu cabang filsafat yang memperhatikan atau berhubungan dengan gejala yang indah pada alam dan seni, yaitu estetika. Di dalamnya menyangkut bahasan ilmiah berkaitan dengan karya seni, sehingga merupakan lingkup bahasan ilmiah. Dalam estetik modern, orang lebih banyak berbicara tentang seni dan pengalaman estetik, karena ini bukan pengertian abstrak melainkan gejala yang konkrit dan dapat ditelaah dengan pengamatan empiris serta penguraian yang sistematis.[5] Dengan demikian, dalam pembahasan ini penulis akan menelaah nilai-nilai[6] estetis kerincing dalam tari Topeng Ireng.


Deskripsi Obyek

Kerincing merupakan suatu properti yang umumnya dipakai pada pergelangan kaki penari dalam tari-tarian. Properti ini berbentuk bulat bola dengan memiliki rongga di dalamnya yang berisi biji logam kecil berukuran ± 0.5 inchi, pada bagian sisi bawahnya terdapat lubang kecil memanjang yang berfungsi sebagai sirkulasi udara untuk menghasilkan bunyi yang lebih nyaring. Ukuran diameter kerincing yang biasa dikenakan dalam tarian rakyat biasanya sekitar 2 - 3 cm. Pada sisi atas kerincing terdapat lingkaran kecil yang digunakan untuk memasang kerincing pada tali. Dalam pemakaiannya pada tarian rakyat, biasanya jumlahnya lebih dari satu kerincing yang di susun dengan tali tersebut. Selain itu, biasanya kerincing disusun rapi pada kain atau spon yang berfungsi untuk menghindari rasa sakit pada kulit akibat lecet dari benturan logam kerincing  (lihat gambar 1).
Gambar 2. Bentuk kerincing dan ukurannya yang berbeda-beda.
Kerincing merupakan properti yang menghasilkan bunyi-bunyian, jika diklasifikasikan berdasarkan bagaimana properti ini menghasilkan bunyi, kerincing termasuk dalam kategori idiophone dan ditinjau dari bahan pembuatannya, kerincing terbuat dari bahan baku logam yang berupa kuningan. Bunyi kerincing ini dihasilkan karena adanya benturan dengan benda lain. Ketika benturan ini terjadi, biji logam di dalam kerincing juga akan mengalami benturan serta pantulan di dalam rongga, sehingga dalam proses ini menghasilkan getaran-getaran yang menimbulkan bunyi.  Karena kekuatan tekanan benturan, pantulan biji logam, serta frekuensi semua kerincing yang berbeda-beda, maka waktu getaran yang dihasilkanpun tidak beraturan dalam menghasilkan bunyi; jelas bersama-sama saat terjadi tekanan atau benturan, dan bunyi ekor akibat getaran-getaran bunyi yang berbeda-beda setelah terjadi tekanan dan benturan. Sehingga, ketika terjadi tekanan dan benturan berulang-kali, maka tiap-tiap kerincing waktu getaran menghasilkan bunyi berbeda antara satu dengan yang lain dengan istilah lain  kemrincing.


Pembahasan

            “Nilai estetis pada umumnya kini diartikan sebagai kemampuan dari suatu benda untuk menimbulkan suatu pengalaman estetis.”[7] Pengalaman estetika dari seseorang merupakan persoalan psikologis, di mana seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualita benda estetik, melainkan juga menelaah kualitas abstrak dari benda estetis, terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya seni.[8]
Untuk menelaah nilai estetis kerincing, yang lebih relevan adalah berdasarkan pengalaman estetis para pelaku kesenian Topeng Ireng tersebut, di mana para pelaku – subyek – telah memiliki pengalaman estetik dari benda seni tersebut dalam proses berkeseniannya yang telah dilakukan selama ini.
“…, teori subjektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan pada suatu benda tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati suatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetis, hal ini berarti bahwa seseorang pengamat memperoleh suatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda itu.”[9]
           
            “Apa yang indah dari kerincing, mengapa benda ini memiliki keindahan, dan kenapa bisa indah?” pertanyaan ini adalah rumusan dari permasalahan penulis terhadap persoalan estetis kerincing, di mana keindahan tersebut masih bersifat abstrak tanpa ada penjelasan yang mendetail mengenai persoalalan keindahan tersebut. Di luar latar belakang kebudayaan yang berbeda, tentunya orang masih belum bisa merasakan keindahan dari benda tersebut. ”Nilai budaya daerah tentu saja bersifat partikularistik, artinya khas berlaku umum dalam wilayah budaya suku bangsa  tertentu.”[10]
Keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualita pokok yang sering disebut; kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan perlawanan (contrast).[11]Adanya ungkapan rasa keindahan dan pengaruh psikologis yang dialami para pelaku kesenian, hal ini merupakan tanggapan keindahan terhadap benda seni tersebut yang tentunya karena adanya pengalaman estetik[12] yang telah mereka peroleh.
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan penari Topeng Ireng kelompok ‘Elang Kawedar’ dari Dk. Selo Tengah, Ds. Selo, Kec. Selo, Kab. Boyolali, yang menurutnya:
“Perbedaan antara menggunakan kerincing dan tidak, sangat berbeda sekali. Kalau gak memakai tampangnya wagu, terus kalau gak memakai keroncong kan gak rame, terus biasanya kalau menari memakai keroncong terus gak memakai tu perbedaannya sangat terasa sekali di kaki, terus suara yang rame itu menambah greget di hati pemain. Selain itu, juga dapat mengkondisikan emosi pemain untuk tetap menari dan bermusik dengan serius, memberi gebrakan kepada penonton dengan bunyi-bunyian yang rame, serta memberi kepuasan dan kesemangatan tersendiri bagi para pemain”[13]


Dari hasil wawancara tersebut merupakan tanggapan mengenai keindahan dari kerincing oleh pelaku kesenian. “Bangsa Yunani juga mengenal kata keindahan dalam arti estetis yang disebutnya “symmetria” untuk keindahan visual, dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (auditif).”[14] Berdasarkan pengalaman estetis pelaku seni Topeng Ireng, keindahan visual dan keindahan berdasarkan pendengaran tersebut juga merupakan hasil keindahan dari kerincing tersebut.
Dari semua uraian dan penjelasan yang dilakukan dalam pembahasan ini merupakan wujud usaha penulis untuk menjelaskan dan menguraikan nilai-nilai estetis kerincing dalam tari Topeng ireng secara lengkap dan cermat mengenai maksud-maksud dan tanggapan para pelaku kesenian – subyek – mengenai keindahan kerincing yang masih bersifat abstrak, di mana para pelaku kesenian bisa merasakan dan memberi tanggapan rame, indah, tampange wagu, meriah, semangat, serius, dan puas tetapi mereka tidak mampu menjelaskan ataupun menguraikan mengenai apa yang telah mereka ucapkan dan rasakan.
Melalui proses analisa data secara korelasional, komparasi, dan kausal dari data yang dikumpulkan; secara induktif dari data di lapangan – dari subyek, serta studi pustaka dan teori estetika, nilai estetis kerincing dalam tari Topeng Ireng dapat diuraikan dan dijelaskan secara lengkap.

Keindahan Visual - Symmetria

Secara khusus dalam pendahuluan tulisan ini telah dijelaskan bahwa; berdasarkan bentuk fisik – artistik – pada kerincing, tanpa ada aturan yang baku, dalam faktanya telah terdapat standarisasi yang dianut para pelaku kesenian yaitu kerincing yang dipakai memenuhi dari pergelangan kaki hingga lutut penari. Kerincing ini dirangkai dari 70 sampai ratusan biji kerincing dengan menggunakan alas spon. Standarisasi ini tentunya terjadi karena adanya kualita keindahan dari kerincing tersebut berdasarkan pengalaman estetis para pelaku kesenian tersebut.
Jika dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan standarisasi yangt telah dianut, maka para pemain akan memberi tanggapan kurang indah karena hal tersebut tidak memenuhi kualita keindahan. Pemakaian kerincing yang tidak memenuhi standarisasi sudah menimbulkan tanggapan kurang indah, selanjutnya pengaruh yang lain dalam kompleksitas  kostum dan properti yang dipakai penari, tanpa adanya pemakaian kerincing semakin kurang memenuhi kualita keindahan. Sebagai contoh adalah pada gambar berikut:
          
Gambar 3.[15]                                                     Gambar 4.[16]

            Pada gambar 3. Merupakan gambar penari yang memakai kostum dan property lengkap yang tampak dari samping. Konstruksi komposisi artistik yang demikian merupakan susunan desain yang telah disepakati dan dianut dalam kesenian tersebut yang tentunya karena dapat memberikan hasil yang dapat dinikmati dan memuaskan karena terdapatnya kualita keindahan. Berbeda dengan gambar 4. di atas, dalam gambar ini penari tidak  menggunakan kerincing pada kaki sebelah kiri, maka persoalan tersebut melanggar dari apa yang telah disepakati dan dianut dalam kesenian ini serta tidak sesuai dengan struktur komposisi atau susunan desain artistik penari yang berlaku dalam kesenian ini, sehingga pada gambar ini tidak menenuhi kualita keindahan, dari tanggapan wawancara sebelumnya menyebutkan ‘tampange wagu’ – tidak indah.

Keindahan Berdasarkan Pendengaran - Harmonia

            Sebelum pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini, perlu dijelaskan bahwa struktur sajian dari tarian ini masih sederhana, baik dari segi gerak tarian maupun segi musikal. Pola-pola gerak maupun pola lantai dari tarian ini masih terkesan sederhana, seta tempo dan dinamika tarian yang masih datar. Begitu juga dalam segi musik, biasanya menggunakan instrument iringan pokok tiga buah bende, truntung, dan bedug. Teknik permainannya pun masih cukup sederhana, pada intrument bende dimainkan dari susunan nada dan rangkaian motif 2 1 2 6[17]  yang dibunyikan secara repetitif, adapun motif repetisi yang lain sebagai pola peralihan dan pola gerak yang lain. Teknik pemainan truntung adalah pinatut, yaitu bermain dengan menyesuaikan gerakan dan musik. Bedug dimainkan digunakan sebagai seleh pada tiap delapan ketukan terakhir untuk memberi tekanan suara rendah.[18]
            Dalam hasil wawancara sebelumnya juga telah dijelaskan bahwa kerincing akan menambah greget di hati pemain, mampu mengendalikan emosional penari dan pemusik untuk perform dengan keseriusan, semangat dan kepuasan tersendiri bagi pemain, serta bertujuan untuk memberi gebrakan kepada penonton dengan bunyi-bunyian yang rame. Semua persoalan tersebut merupakan pengaruh psikologi dari suara – audio – yang dihasilkan dari kerincing.
            Hal di atas merupakan tanggapan estetik pelaku kesenian dalam memahami keindahan efek bunyi kerincing. Pemahaman estetik dalam seni – bentuk pelaksanaannya merupakan apresiasi. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan memahai karya seni. Seorang pengamat yang memahami karya sajian maka sebenarnya ia telah mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar susunan karya yang sedang dihayati.[19]
            Suasana rame dan meriah ini bisa dijelaskan bahwa pada kerincing yang dipakai penari memiliki frekuensi bunyi yang berbeda-beda, perbedaan frekuensi ini dibunyikan secara bersama-sama, serta waktu getaran bunyi yang berbeda-beda, hal ini merupakan keanekaan dan keberagaman frekuensi bunyi yang dibunyikan secara bersama-sama. Dalam hal ini juga bisa dianalogikan ketika orang membanting piring kaca hingga pecah; ketika piring terjatuh hingga pecah, bunyinya terkesan beragam dan sulit didefinisikan ukuran nadanya yang tepat, dalam kejadian ini terjadi karena pecahan piring yang telah terpisah tersebut memiliki frekuensi bunyi yang berbeda-beda. Yang perlu dipahami dari penjelasan tersebut adalah analogi penulis, di mana antara kerincing dan piring memiliki karakteristik bunyi yang berbeda.
            Dalam penyajian tarian ini, walaupun para pelaku kesenian menganggap kerincing bukan alat musik, suara kerincing ini secara kompleks menjadi bagian dari struktur sajian musik pengiring tari. Sesuai dengan gerakan kaki penari yang tentunya sesuai dengan iringan musik, bunyi kerincing ini membentuk pola-pola ritme di mana ritme yang dihasilkan ini menjadi unsur bagian dari musik. Jadi, kerincing juga mengandung ‘nilai musikal’[20].
              Berdasarkan gerakan tari dan iringan musik yang terkesan masih sederhana, berdasarkan suara kerincing yang dianggap rame dan meriah, serta adanya pembentukan pola ritme. Hal ini terjadi kesatuan, keselarasan, kesetangkupan, keseimbangan, dan perlawanan hingga mencapai keindahan. Keindahan di sini tentunya karena adanya perasaan senang, nyaman, dan puas yang dirasakan pelaku kesenian. Ungkapan perasaan tersebut menjadi pengalaman estetis pelaku kesenian sehingga dianggap menjadi indah.
            Hal di atas sesuai dengan pernyataan Steppen C. Pepper yang menyebutkan:
“kemonotonan (kesenadaaan yang berlebihan) dan kekacau balauann (confusion). Untuk mengatasi kedua faktor yang mencegah atau merusak dari pengalaman estetik itu, penyusunan karya seni harus diusahakan adanya keanekaan (variety) dan keseimbangan”.[21]

Dalam hal ini kerincing berperan memberi keanekaan dan keseimbangan dalam struktur sajian tari Topeng Ireng, baik dari segi musikal maupun tarian.
            Kerincing juga bisa mengkondisikan penari dan pemusik agar tetap bermain dengan serius. Dalam hal ini kerincing berfungsi menjadi bunyi pengingat. Ketika penari dan pemusik sudah merasa kelelahan ketika pementasan, dengan terdengarnya bunyi kerincing ini mampu menggugah semangat para penari dan pemusik untuk tetap bermain dengan serius. Lebih khususnya lagi pada penari, secara inter personal ketika mendengar kerincing dari penari disekitarnya – terjadi saling berpengaruh antar penari, penari menjadi terpengaruhi sehingga hentakan kaki penari semakin diperjelas untuk memperjelas bunyi kerincing pada kakinya yang secara otomatis gerakan kaki akan mempengaruhi liutan gerak tubuh lainnya menjadi lebih semangat. Secara intra personal, penari sadar bahwa dia menggunakan kerincing sehingga ketika kerincing yang dipakai tidak berbunyi secara keras, penari akan merasa tidak puas dan kurang menikmati ekspresinya. Sehingga,  penari tergugah emosinya untuk tetap berekspresi menari secara serius dan semangat serta dapat menikmati ekpresinya. Dengan demikian, karena pengaruh bunyi kerincing, para penari dan pemusik dapat menikmati kesenian yang mereka sajikan, serta menjadi bagian dari ekspresi mereka. Selain itu, juga diharapkan agar sajian tari Topeng Ireng ini juga dapat dinikmati oleh penonton yang menyaksikannya.
“…, penikmatan merupakan proses dimensi psikologis, proses interaksi antara aspek intrinsik seorang terhadap sebuah karya estetik. Hasil dari interaksi proses tersebut merupakan ultimatum senang arau tidak senang terhadap keberlangsungan terhadap karya seni.”[22]

Berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan di atas, baik dari keindahan visual maupun keindahan berdasarkan pendengaran, kerincing juga mengandung ‘nilai ekspresi’ di mana “’muatan’ atau ‘isi’ ini dapat disebutkan berdasarkan rasa inderawi dan emosi yang dibedakan menurut rasa yang meyenangkan, rasa lucu (komik, humor) dan renungan”.[23]


Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman estetis dari pelaku kesenian, terdapat dua aspek keindahan dalam kerincing, yaitu keindahan visual dan keindahan berdasarkan pendengaran. Dalam keindahan visual – symmetria, dengan adanya standarisasi pemakaian kerincing serta kesatuan dan keselarasan properti kerincing dalam susunan komposisi kostum penari. Dalam keindahan berdasarkan pendengaran – harmonia,  terjadi karena karakteristik bunyi kerincing, waktu dan getaran bunyi, dan perpaduan bunyi dari berbagai frekuensi bunyi yang berbeda-beda dalam kerincing yang secara kompleks dan terstruktur menjadi berpengaruh dalam pertunjukan. Secara psikologis berdasarkan apa yang telah dirasakan dan diserap oleh pelaku seni, hal-hal dalam kedua aspek tersebutlah yang membuat kerincing memiliki keindahan.
Yang lebih penting adalah keindahan tersebut berdasarkan perasaan dan penyerapan indera yang secara psikologis dialami manusia sehingga menganggap benda itu indah. Suatu benda tidak mempunyai panca indera  seperti manusia, di mana yang dapat merasakan dan menganggap indah – secara psikologis – serta menguraikan dan menjelaskan keindahan tersebut adalah manusia. 






Daftar Pustaka


Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.
Koenjaraningrat. 1969, Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia. Jakarta: Bhatara.


Webtografi




Narasumber


Kenci. Penari Topeng Ireng ‘Elang Kawedar’ Dk. Selo Tengah, Ds. Selo, Kec. Selo, Kab. Boyolali.




* Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Surakarta angkatan 2009.
[1] http://zuzabaihaqi.blogspot.com/
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:4.
[5] Ibid. baca hal:4 dan 5.
[6] “Nilai adalah ukuran derajat tinggi-rendah atau kadar yang dapat diperhatikan, diteliti atau dihayati dalam berbagai objek yang bersifat fisik (konkrit) maupun abstrak” (Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:20.)

[7] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:15.
[8] Liang Gie dalam Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:83.
[9] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:15-16.
[10] Koenjaraningrat. 1969, Rintangan-Rintangan Mental Dalam Pembangunan Ekonomi Di
Indonesia. Jakarta: Bhatara. Hal.18.
[11] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:3.
[12] “pengalaman estetik adalah pengalaman yang dirasakan oleh penikmat terhadap karya estetik (=dalam arti keindahan).” (Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:37.)
[13] Wawancara dengan Kenci – penari,  pada hari minggu, 13 November 2011, Jam 19.30 WIB. Terjemahan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.
[14] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:9.
[15] Didokumentasi oleh penulis pada tanggal 13 November 2011, kelompok tari Topeng Ireng ‘Karya Manunggal’ Dk. Selo Tengah, Ds. Selo, Kab. Boyolali dalam acara tasyakuran warga di Dk. Salam, Ds. Samiran, Kec. Selo, Kab. Boyolali.
[16] Ibid.
[17] Tiga buah bende bernada 6, 1, dan 2 yang berlaras slendro.
[18] Dalam perkembangannya saat ini, beberapa kesenian Topeng Ireng memberi tambahan instrument sebagai unsur melodi contohnya; suling, organ, angklung, dan beberapa instrument melodi lainnya. Akan tetapi instrument-instrument yang telah ada dan baku tetap bermain  sesuai teknik dan  ritme yang telah ada sebelumnya.
[19] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:82.

[20] Nilai musikal ialah suatu kualita ‘musik’ murni yang tersamar dan sukar ditangkap oleh penghayatan karya seni. Nilai musikal ini memuaskan seniman dan pencipta seni yang disebabkan oleh rasa senang yang disadari secara spontan. (Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:21)
[21] Liang Gie dalam Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:83-84.
[22] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:95.
[23] Kartika, Dharsono Sony dan Prawira, Nanang Ganda. 2004, Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Hal:25.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar