Senin, 17 Desember 2012

‘MODERNISASI’ TARI RAKYAT DI CEPOGO


‘MODERNISASI’ TARI RAKYAT DI CEPOGO
Oleh
Kiswanto


Seni rakyat, penyebutan ini pada dasarnya memang ditinjau dari strativikasi kehidupan sosial masyarakat, antara elite dan rakyat. Tidak bermaksud membedakan mana yang baik dan mana yang jelek, tetapi sebagai klasifikasi seni yang secara garis besar memang memiliki perbedaan konsep.  “Seni rakyat  merupakan kesenian yang lahir,  hidup, dan menjadi bagian dari kehidupan sosial-budaya masyarakat pedesaan – tani, nelayan, perburuan. Fungsinya sebagai sarana pelestarian kehidupan bermasyarakat - solidaritas sosial, ritual kepercayaan, dan sarana hiburan. Bentuknya sederhana;  garap tidak rumit; peralatan dan properti sederhana atau seadanya.  Merupakan unity dengan unsur-unsur:  cerita,  dialog,  musik,  tari,  banyol, sedih,  gembira” (Rustopo, dalam MK SPI).
Kreativitas-kreativitas untuk mengembangkan dan menjaga eksistensinya-pun bermunculan dalam seni ini, seperti yang terjadi di Kecamatan Cepogo, Boyolali. Dalam pementasan tarian rakyat kelompok ‘Kridho Seto’ beberapa hari yang lalu (24/12/11), tepatnya di Dk. Blambangan, Ds. Gedangan, Kec. Cepogo, Kab. Boyolali, Selain dipentaskan secara mandiri musik Dangdut menjadi bagian dari struktur iringan tari rakyat, selain iringan gendhing-gendhing Jawa. Bukan hanya pada kelompok ini, kehadiran genre musik Dangdut ini pun telah menjadi ciri khas di daerah tersebut, ini terjadi pada hampir semua tari rakyat di daerah tersebut; seperti Yakso Jati di Dk. Sidosari, Pakem di Dk. Kadisono dan lainnya. Bentuk-bentuk tariannya-pun berbeda-beda; ada yang sejenis Jaranan, Buto, Warokan, dan lain-lain.

Modernisasi
Ke-khas-an tari rakyat di Cepogo yang hampir semuanya telah terdapat element musik Dangdut di dalamnya, hal ini tentunya tidak terjadi serta merta dalam waktu yang cepat begitu saja. Terlebih dahulu pasti ada sebab-sebab yang melatar belakanginya hingga akhirnya mampu dianut dan tersebar luas di daerah tersebut. Persoalan ini tak terlepas dari arus perkembangan jaman dan globalisasi - Media massa, industri, serta teknologi - yang menjadi pengaruh utama terhadap perubahan pola-pola kehidupan sosial masyarakat. Perubahan ini terjadi sangat kompleks berpengaruh di hampir segala bidang, tak terkecuali kesenian. Dalam situasi yang demikian, masyarakat selalu disuguhi dan dimudahkan beraneka macam menu-menu kebutuhan baru yang lebih efektif dan efisien, sehingga ‘modernisasi’ menjadi arus kebutuhan yang tidak dapat dihindari.  “modernisasi merupakan proses yang bertahap, yaitu mulai dari tahap tradisional menuju masyarakat modern. modernisasi merupakan proses progresif. Dalam jangka panjang modernisasi meningkatkan kesejahteraan manusia, baik kultural maupun material-material”(Samuel P.H).
Dalam kasus kesenian rakyat, kebanyakan bentuk sajian tari rakyat yang masih monotone, sederhana, serta melulu itu aja, ini mengindikasi bahwa masuknya musik Dangdut dalam kesenian tersebut karena mereka menginginkan sesuatu yang baru juga dalam keseniannya, serta agar kesenian yang mereka tampilkan tetap bisa menghadirkan, menghibur, dan menarik simpati banyak penonton. Baik dangdut maupun tari rakyat, keduanya merupakan seni massa di mana keduanya memiliki bentuk yang sederhana, bersifat menghibur, serta bertujuan menghadirkan penonton ketika pertunjukan. Perbedaannya hanya terletak pada ruang lingkup kesenian itu dikenal,  di mana Dangdut merupakan musik populer – industri - yang lebih banyak dikenal dan mudah dinikmati banyak orang, sedangkan pada umumnya tari rakyat hanya menjangkau dalam wilayah kebudayaan kesenian tersebut. Sehingga, memperpadukan musik dangdut menjadi alasan yang mendasar agar tari rakyat tetap mampu menarik simpati dan menghibur banyak penonton di jaman sekarang ini.

Elastisitas Musik Dangdut
            Masuknya element musik Dangdut menjadi bagian struktur pengiring tarian rakyat yang berbasis budaya Jawa ini, selain elastis terhadap musik-musik lain; “mengandung unsur-unsur musik India, Arab, dan Melayu, mengadopsi unsur-unsur musik Barat, rockn’roll, Regee, dan Rap, dan berbaur dengan musik etnis nusantara lain seperti Jawa, Sunda, Batak dan Minangkabau”(Takari:2001), alunan musik dangdut yang memang sangat dinamis dan cukup potensial untuk berjoget dan menari juga mampu menghadapi dan mempengaruhi bentuk-bentuk tarian rakyat di daerah Cepogo.
Hal ini tentunya terjadi karena adanya kesamaan dan kesesuaian aspek musikal antara gerakan dan iringan tari dengan musik Dangdut, hingga dangdut dan tari rakyat dapat diperpadukan tanpa proses yang begitu sulit. Hal ini dapat diamati pada ketukan birama 4/4 yang umumnya terdapat pada lagu dangdut, irama ini sesuai dengan gerakan tari yang mengacu pada perhitungan ketukan genap. Apalagi adanya instrument tabla – kendang, bangunan pola permainan ritme-ritme dari kedua tabung membran tersebut menjadi stimulus bunyi yang memang sangat pas untuk menari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar