Senin, 17 Desember 2012

“Gelar 300 Jaranan”, Minim Antusias


“Gelar 300 Jaranan”, Minim Antusias
Oleh
Kiswanto


Sebuah perhelatan akbar “Gelar 300 Jaran Kepang” disuguhkan gratis selama tiga hari kepada masyarakat. Pagelaran ini menghadirkan berbagai macam seni jaranan dari berbagai daerah di Jawa Tengah, sekaligus menjadi bagian dari serangkaian event “Seni Pertunjukan Tradisional Indonesia” di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta dari Sabtu kemarin. 
Minggu (25/11/2012) adalah hari pertama diadakannya gelar jaranan ini. Sejak upacara pembukaan pukul 09.00 WIB, rombongan-rombongan seni yang juga akrab disebut Kuda Lumping terlihat mulai berdatangan memadati area Pendhopo Ageng TBS menjadi ‘penuh warna’. Sebelumnya, beberapa kelompok saling mengantri untuk GR, check panggung, maupun check sound. Sampai pementasan dimulai, menginjak siang sampai sore hari, dengan semangatnya para penampil sangat antusias memamerkan karyanya.
Fasilitas yang diberikan pihak penyelenggara pun juga cukup lengkap. Selama berada di lokasi, per kelompok disediakan dua kali makan & minum, Wisma Seni sebagai tempat penginapan dan peristirahatan, tempat rias yang layak, serta anggaran dana yang telah disepakati. Selain mendapat fasilitas yang demikian, tentunya suatu kebanggaan tersendiri bagi kelompok kesenian rakyat yang datang berjauhan hingga dapat berpartisipasi ke TBS, suatu tempat yang cukup terkenal sebagai tempat pertunjukan seni.
Tidak pandang bulu, dari yang berprestasi sampai yang tidak berprestasi sama sekalipun diikutkan dalam ajang ini. Hal ini menunjukkan begitu perhatiannya penyelenggara mengapresiasi akan eksistensi kesenian Jaranan di Jawa Tengah. Pagelaran ini juga mengingatkan pernyataan Bibit Waluyo yang menjustifikasi bahwa kesenian Jaran Kepang itu kesenian daerah yang ‘jelek’, wujud apreasiasi pihak TBS ini nampaknya juga sebagai wujud respon akan kekayaan dan keberagaman seni Jaranan di Jawa Tengah terhadap Gubernur Jateng tersebut. Hal ini juga dapat diamati dari ucapan-ucapan kedua MC yang sering mengemukakan; “mosok seni Jaranan diarani jelek, jelek’e nendi?”.
  Para penyaji saling berunjuk kebolehannya masing-masing. Adanya interaksi yang terjalin dalam pertunjukan ini tentunya sangat bermanfaat bagi para penampil, setelah saling mengamati aneka ragam pertunjukan Jaranan tentunya dapat mengevaluasi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dampaknya, akan menjadi inspirasi dan motivasi para seniman Jaranan agar tetap mempertahankan eksistensinya sekaligus mengembangkannya.
 Kursi-kursi yang disiapkan panitia penuh ditempati penonton, hingga sebagian sampai menyaksikan dengan berdiri dan duduk di atas lantai area pendhopo. Sebagian besar penonton ini tak lain adalah para penampil yang menunggu giliran pentas, beristirahat, ataupun sekedar menyaksikan. Antusiasme masyarakat setempat terlebih Solo pada umumnya sangat kurang, mengingat event ini mendatangkan kesenian dari berbagai daerah yang sekaligus juga bertaraf Nasional.
Pendhopo memang agak penuh, namun area luar seputaran pendhopo begitu sepi pengunjung. Nampaknya “Gelar 300 Jaranan” ini kurang terpublikasi jauh-jauh hari dengan baik. Event-event bertaraf lokal saja bisa dipadati pengunjung, tapi mengapa perhelatan akbar ini tidak?, cukup disayangkan tentunya. Selain lemahnya publikasi, kurangnya antusias masyarakat Solo juga menunjukkan bahwa panitia gagal mem-branding event yang diadakannya, bahkan mungkin sama sekali tidak mem-branding-nya.
 Budaya jam karet pun juga terjadi dalam pagelaran ini, jadwal yang direncanakan menunjukkan jam 08.00 tepat akan dimulai, jam 09.00 lebih baru dimulai. Padahal, sebelum jam 08.00 sudah banyak kelompok seni yang tiba sekaligus telah siap pentas. Bisa saja molor-nya waktu ini terjadi karena sebab-sebab yang tidak dapat dihindari, ataupun kebiasaan buruk yang telah membudaya, tapi yang jelas hal ini menunjukkan kurangnya profesionalitas para panitia.
Para penampil akan pentas sesuai dengan hari dan tanggal yang telah ditentukan panitia dalam undangan. Sebelumnya undangan resmi terhadap kelompok Jaranan telah tersebar, koordinasi pra-event antara panitia dengan kelompok Jaranan juga terjalin. Terlihat di Boyolali, Jatmiko stage manager dari event ini sering terjun ke lapangan langsung ke beberapa kelompok kesenian.
Atas kesengajaan atau tidak, satu hari sebelum event diadakan hingga pagi hari event dibuka, dead-line waktu pementasan (run down) per-penampil belum diinformasikan dengan jelas, para penampil ‘kebingungan’ kapan waktu pentasnya? serta mendapat giliran yang ke berapa?. Menurut informasi yang didapat dari salah seorang ketua kesenian Jaranan “Turonggo Seto” dari Boyolali (Suharmin) minggu pagi, menuturkan bahwa jadwal pentas akan diberitahukan panitia setelah acara pembukaan, sekaligus berdasarkan pertimbangan kesenian yang telah hadir dan siap. Ternyata benar, jadwal bergilir masing-masing Jaranan baru diberitahukan setelah “Gelar 300 Jaranan” dibuka.  Hal ini tentunya kurang efisien bagi para penampil yang datang, akibatnya akan terlalu lama menunggu serta memperpanjang waktu berada di lokasi event.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar